
" Pertanyanyaanya, bukanlah apakah kita akan mati, tapi bagaimana cara kita akan hidup "
Joan Borysenko
" Ada apa ? " aku masih ingat mengajukan pertanyaan itu pada teman satu timku, ketika ia duduk di depan locker-nya. Lebih dari 20 tahun yang lalu. kami baru saja selesai megalahkan satu lagi lawan pada tahun terakhir kami disekolah menengah, dan disanalah ia duduk - kepala tertangkup ditangan - sendirian - kesakitan. Ia tangguh, 17 tahun, dan seorang atlit hebat. Namanya Mark Overstreet.
Anggota tim yang lain sudah mandi dan pulang, tapi Mark masih berpakaian lengkap dalam seragam rugbi-nya. Ketika ia mengangkat kepala untuk bicara, aku melihat matanya berkaca kaca. Sekarang aku tahu ada yang tak beres. Ia adalah seorang pemuda yang bangga bisa melihat lawanya menangis di lapangan rugbi. " Aku tidak tau, " katanya pelan. " rasanya seperti semua luka yang pernah kulami muncul lagi. Seluruh badanku sakit. kakiku rasanya berat sekali."
Sekitar seminggu sebelumnya, komunitas kami diserang flu babi. Satu persatu, para murid antri untuk memperolah vaksinasi yang akan mencegah penyebaran penyakit itu. Aku ingat kami semua mendapatkan suntikan itu, dan tidak memikirkannya. Tapi ketika Mark mendapakan vaksin itu, tubuhnya memberikan reaksi alergi yang sangat jarang terjadi.
Keesokan paginya, kaki kanannya tidak dapat digerakan. Sekeras apapun ia berusaha.
Karena khawatir, ibu Mark membawanya ke rumah sakit.
Dokter dengan serius mengatkan " Aku tidak tau kau kenapa Mark, tapi kau akan kehilangan kaki itu."
Ketika dirumah sakit, kaki kirinya menyusul kaki kanannya. Lumpuh.
Akhirnya setelah berbagai tes tak memberikan hasil, dokter masuk ke kamar Mark untuk memberitahukan hasil pemerikasannya. " Mark, apapun penyebabnya, penyakit ini akan membunuhmu. Gejalanya akan menyebar ke jantungmu. Kami punya satu rencana. Dengan harapan bisa menghentikan ini, kami ingin mengamputasi kedua kakimu tepat di bawah lutut. Jika cara ini tidak berhasil, kau punya waktu dua minggu."
" Aku kenapa ? " Mark kembali bertanya
Ketika operasi selesai, Mark terjaga dan menemukan dokter di samping ranjangnya. " Aku punya berita baik dan berita buruk," kata dokter. " Berita baiknya adalah, apapun itu, penyakitmu sudah hilang. Operasinya berhasil. Kau akan hidup. Berita buruknya. kau mungkin akan selamanya berada di kursi roda dan keluar masuk rumah sakit. Aku menyesal."
Saat itulah Mark membuat keputusan -- sebuah pilihan yang akan membentuk seuruh masa depannya. " Tidak ! " ia menjawab. " Aku tidak mau tinggal di rumah sakit -- aku tidak mau duduk dikursi roda. Aku akan berjalan dan aku akan menjalani hidup ! Ini hanya permulaan -- bukan akhir."
Upayanya menghabiskan waktu satu tahun. Mark meninggalkan rumah sakit untuk terakhir kalinya. Tetapi karena tidak bisa bermain rugby lagi, ia memutuskan untuk mengajari dan melatih orang lain untuk bermain rugby.
Setiap pagi Mark bangun, mengenakan kakinya, dan pergi ke sekolah untuk menyamut murid serta guru yang lain.
Dulu dia harus memilih. Ia bisa saja masih berada di kursi roda, keluar masuk rumah sakit, menyesali nasib buruk yang ia alami. Tapi, ia sebaliknya, ia telah mengubah banyak hidup dan menjalani hidupnya sendiri dengan penuh kebahagiaan.
Anggota tim yang lain sudah mandi dan pulang, tapi Mark masih berpakaian lengkap dalam seragam rugbi-nya. Ketika ia mengangkat kepala untuk bicara, aku melihat matanya berkaca kaca. Sekarang aku tahu ada yang tak beres. Ia adalah seorang pemuda yang bangga bisa melihat lawanya menangis di lapangan rugbi. " Aku tidak tau, " katanya pelan. " rasanya seperti semua luka yang pernah kulami muncul lagi. Seluruh badanku sakit. kakiku rasanya berat sekali."
Sekitar seminggu sebelumnya, komunitas kami diserang flu babi. Satu persatu, para murid antri untuk memperolah vaksinasi yang akan mencegah penyebaran penyakit itu. Aku ingat kami semua mendapatkan suntikan itu, dan tidak memikirkannya. Tapi ketika Mark mendapakan vaksin itu, tubuhnya memberikan reaksi alergi yang sangat jarang terjadi.
Keesokan paginya, kaki kanannya tidak dapat digerakan. Sekeras apapun ia berusaha.
Karena khawatir, ibu Mark membawanya ke rumah sakit.
Dokter dengan serius mengatkan " Aku tidak tau kau kenapa Mark, tapi kau akan kehilangan kaki itu."
Ketika dirumah sakit, kaki kirinya menyusul kaki kanannya. Lumpuh.
Akhirnya setelah berbagai tes tak memberikan hasil, dokter masuk ke kamar Mark untuk memberitahukan hasil pemerikasannya. " Mark, apapun penyebabnya, penyakit ini akan membunuhmu. Gejalanya akan menyebar ke jantungmu. Kami punya satu rencana. Dengan harapan bisa menghentikan ini, kami ingin mengamputasi kedua kakimu tepat di bawah lutut. Jika cara ini tidak berhasil, kau punya waktu dua minggu."
" Aku kenapa ? " Mark kembali bertanya
Ketika operasi selesai, Mark terjaga dan menemukan dokter di samping ranjangnya. " Aku punya berita baik dan berita buruk," kata dokter. " Berita baiknya adalah, apapun itu, penyakitmu sudah hilang. Operasinya berhasil. Kau akan hidup. Berita buruknya. kau mungkin akan selamanya berada di kursi roda dan keluar masuk rumah sakit. Aku menyesal."
Saat itulah Mark membuat keputusan -- sebuah pilihan yang akan membentuk seuruh masa depannya. " Tidak ! " ia menjawab. " Aku tidak mau tinggal di rumah sakit -- aku tidak mau duduk dikursi roda. Aku akan berjalan dan aku akan menjalani hidup ! Ini hanya permulaan -- bukan akhir."
Upayanya menghabiskan waktu satu tahun. Mark meninggalkan rumah sakit untuk terakhir kalinya. Tetapi karena tidak bisa bermain rugby lagi, ia memutuskan untuk mengajari dan melatih orang lain untuk bermain rugby.
Setiap pagi Mark bangun, mengenakan kakinya, dan pergi ke sekolah untuk menyamut murid serta guru yang lain.
Dulu dia harus memilih. Ia bisa saja masih berada di kursi roda, keluar masuk rumah sakit, menyesali nasib buruk yang ia alami. Tapi, ia sebaliknya, ia telah mengubah banyak hidup dan menjalani hidupnya sendiri dengan penuh kebahagiaan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar